Jumat, 23 Mei 2014

Tiga Tingkatan Cinta



Cinta dalam bahasa Arab adalah al-hub atau al-mahabat. Menurut Al-Junaid, cinta adalah kecenderungan hati. Dengan demikian, cinta secara umum dapat didefinisikan sebagai perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang condong kepada apa yang dicintainya dengan semangat mengasihi dan menyayangi.
Abdullah Nashih Ulwan membagi cinta dalam tiga tingkatan sebagai berikut:
1.     Al-Mahabat Al-Ula
2.     Al-Mahabat Al-Wustha
3.     Al-Mahabat Al-Adna.

 ö@è% bÎ) tb%x. öNä.ät!$t/#uä öNà2ät!$oYö/r&ur öNä3çRºuq÷zÎ)ur ö/ä3ã_ºurø—r&ur óOä3è?uŽÏ±tãur îAºuqøBr&ur $ydqßJçGøùuŽtIø%$# ×ot»pgÏBur tböqt±øƒrB $ydyŠ$|¡x. ß`Å3»|¡tBur !$ygtRöq|Êös? ¡=ymr& Nà6ø‹s9Î) šÆÏiB «!$# ¾Ï&Î!qߙu‘ur 7Š$ygÅ_ur ’Îû ¾Ï&Î#‹Î7y™ (#qÝÁ­/uŽtIsù 4Ó®Lym š†ÎAù'tƒ ª!$# ¾Ín͐öDr'Î/ 3 ª!$#ur Ÿw “ωöku‰ tPöqs)ø9$# šúüÉ)Å¡»xÿø9$# ÇËÍÈ  
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Al-Mahabat Al-Ula adalah tingkatan cinta yang utama, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta perkara-perkara yang bertalian dengan keduanya. Inilah cinta sejati,cinta abadi. Apabila cinta sejati ini telah mengeram pada diri seseorang., maka secara meneduhkan dirinya akan mendapatkan ketentraman hati yang hakiki; sebuah ketentraman transenden yang tak pernah terusik oleh kecamuk masalah-masalah duniawi. Allah sebagai Sang Kekasih tak akan pernah membiarkan orang yang tulus mencintai-Nya gelisah dan merana dalam hidup. Semerbak kasih sayang Allah akan menyebar harum  mewangi menelusup ke dalam pori-pori hidupnya. Inilah klimaks keindahan cinta sejati.
Adapun kecintaan pada keluarga (anak, istri, ibu, bapak, sanak-saudara), harta, tahta, wanita dan segala objek cinta yang bersifat duniawi adalah tingkatan cinta menengah (Al-Mahabat Al-Wustha). Cinta ini harus berada di bawah cinta utama dan pelaksanaannya harus sesuai dengan syariat Allah dan rasul-Nya. Jika cinta menengah diangkat mengungguli cinta utama, maka cintanya akan jatuh pada cinta yang paling rendah, cinta yang akan mendatangkan kehinaan (Al-Mahabat Al-Adna). Orang yang tenggelam ke dalam “samudera tak bertepi” dari Al-Mahabat Al-Adna__sebagaimana disinyalir Allah dalam QS. At-Taubah ayat 24 di atas—termasuk golongan kaum fasik yang akan selalu mengalami kekeringan hidayah dalam hidupnya. Dalam ayat lain Allah Swt juga menegaskan:

šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB ä‹Ï‚­Gtƒ `ÏB Èbrߊ «!$# #YŠ#y‰Rr& öNåktXq™6Ïtä† Éb=ßsx. «!$# ( tûïɋ©9$#ur (#þqãZtB#uä ‘‰x©r& ${6ãm °! 3 öqs9ur “ttƒ tûïÏ%©!$# (#þqãKn=sß øŒÎ) tb÷rttƒ z>#x‹yèø9$# ¨br& no§qà)ø9$# ¬! $Yè‹ÏJy_ ¨br&ur ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>#x‹yèø9$# ÇÊÏÎÈ  
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda