Tiga Tingkatan Cinta
Cinta dalam bahasa Arab adalah al-hub atau al-mahabat.
Menurut Al-Junaid, cinta adalah kecenderungan hati. Dengan demikian, cinta
secara umum dapat didefinisikan sebagai perasaan jiwa dan dorongan hati yang
menyebabkan seseorang condong kepada apa yang dicintainya dengan semangat
mengasihi dan menyayangi.
Abdullah Nashih
Ulwan membagi cinta dalam tiga tingkatan sebagai berikut:
1.
Al-Mahabat Al-Ula
2.
Al-Mahabat Al-Wustha
3.
Al-Mahabat Al-Adna.
ö@è%
bÎ)
tb%x.
öNä.ät!$t/#uä
öNà2ät!$oYö/r&ur
öNä3çRºuq÷zÎ)ur
ö/ä3ã_ºurør&ur
óOä3è?uϱtãur
îAºuqøBr&ur
$ydqßJçGøùutIø%$#
×ot»pgÏBur
tböqt±ørB
$ydy$|¡x.
ß`Å3»|¡tBur
!$ygtRöq|Êös?
¡=ymr&
Nà6øs9Î)
ÆÏiB
«!$#
¾Ï&Î!qßuur
7$ygÅ_ur
Îû
¾Ï&Î#Î7y
(#qÝÁ/utIsù
4Ó®Lym
ÎAù't
ª!$#
¾ÍnÍöDr'Î/
3
ª!$#ur
w
Ïöku
tPöqs)ø9$#
úüÉ)Å¡»xÿø9$#
ÇËÍÈ
Katakanlah: "Jika bapak-bapak,
anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan
yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan
dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-NYA".
dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Al-Mahabat
Al-Ula
adalah tingkatan cinta yang utama, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta
perkara-perkara yang bertalian dengan keduanya. Inilah cinta sejati,cinta
abadi. Apabila cinta sejati ini telah mengeram pada diri seseorang., maka
secara meneduhkan dirinya akan mendapatkan ketentraman hati yang hakiki; sebuah
ketentraman transenden yang tak pernah terusik oleh kecamuk masalah-masalah
duniawi. Allah sebagai Sang Kekasih tak akan pernah membiarkan orang yang tulus
mencintai-Nya gelisah dan merana dalam hidup. Semerbak kasih sayang Allah akan
menyebar harum mewangi menelusup ke
dalam pori-pori hidupnya. Inilah klimaks keindahan cinta sejati.
Adapun
kecintaan pada keluarga (anak, istri, ibu, bapak, sanak-saudara), harta, tahta,
wanita dan segala objek cinta yang bersifat duniawi adalah tingkatan cinta
menengah (Al-Mahabat Al-Wustha). Cinta ini harus berada di bawah cinta
utama dan pelaksanaannya harus sesuai dengan syariat Allah dan rasul-Nya. Jika
cinta menengah diangkat mengungguli cinta utama, maka cintanya akan jatuh pada
cinta yang paling rendah, cinta yang akan mendatangkan kehinaan (Al-Mahabat
Al-Adna). Orang yang tenggelam ke dalam “samudera tak bertepi” dari Al-Mahabat
Al-Adna__sebagaimana disinyalir Allah dalam QS. At-Taubah ayat 24 di
atas—termasuk golongan kaum fasik yang akan selalu mengalami kekeringan hidayah
dalam hidupnya. Dalam ayat lain Allah Swt juga menegaskan:
ÆÏBur
Ĩ$¨Z9$#
`tB
äÏGt
`ÏB
Èbrß
«!$#
#Y#yRr&
öNåktXq6Ïtä
Éb=ßsx.
«!$#
(
tûïÉ©9$#ur
(#þqãZtB#uä
x©r&
${6ãm
°!
3
öqs9ur
tt
tûïÏ%©!$#
(#þqãKn=sß
øÎ)
tb÷rtt
z>#xyèø9$#
¨br&
no§qà)ø9$#
¬!
$YèÏJy_
¨br&ur
©!$#
ßÏx©
É>#xyèø9$#
ÇÊÏÎÈ
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada
Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui
ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan
Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka
menyesal).
